Bolehkah Membaca Niat Puasa Qadha Ramadan setelah Subuh? Yuk Simak Hukum dan Penjelasannya!

TRIBUNJATIM.COM – Umat Islam yang sempat meninggalkan puasa Ramadan harus menggantinya dengan puasa di bulan lain yang disebut puasa qadha.

Puasa ini juga diawali dengan niat.

Namun, bolehkah niat puasa qadha setelah subuh?

Puasa Ramadan adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim. Hal ini disampaikan melalui firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Namun, ada beberapa kondisi yang membolehkan umat Muslim untuk tidak berpuasa, seperti musafir, perempuan haid dan nifas, dan orang sakit. Namun, mereka tetap bisa menggantinya dengan puasa qadha.

Apa itu puasa qadha dan bagaimana tata caranya? Apa Itu Puasa Qadha

Kata qadha adalah bentuk masdar dari kata dasar قَضَى – يقْضي (qadha – yaqdhu) yang artinya menyelesaikan, memenuhi, mencapai, menyempurnakan, melakukan, melaksanakan, mengabulkan, dan menuntaskan.

Jadi, puasa qadha artinya menyelesaikan puasa Ramadan yang tidak dapat dilakukan secara penuh di bulan tersebut.

Dalam buku Fikih Puasa Serial Kajian Ramadhan oleh Mohammad Hafid, Lc., M.H. (2022), pengecualian puasa Ramadan diberikan untuk perempuan haid, nifas, dan menyusui, serta orang sakit. Pasalnya, jika orang hamil dan menyusui berpuasa secara penuh, bisa jadi gizi yang didapat saat sahur akan cepat habis pada siang hari.

Akibatnya, akan muncul efek negatif bagi kesehatan dirinya maupun bayinya.

Niat Puasa Qadha

Sama seperti puasa Ramadan, puasa qadha juga harus diawali dengan membaca niat.

Seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadit, umat Muslim dianjurkan untuk berniat saat akan melakukan segala sesuatu, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ 

Arti: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) Bacaan niat puasa qadha adalah sebagai berikut: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ. Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.” Lalu, bolehkah niat puasa qadha dibaca setelah subuh?

Jawabannya, niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari karena sifat puasa ini adalah wajib.

Halaman selanjutnya

Sumber: Surya

BERITATERKAIT

Ikuti kami di

 

​Bolehkah niat puasa qadha dibaca setelah subuh? Jawabannya, niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari karena sifat puasa ini adalah wajib. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *