5 Orang Sindikat Mafia Tanah di Banyuwangi dan Pamekasan Diciduk Satgas Anti Mafia Tanah Polda Jatim

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Lima tersangka mafia tanah yang meresahkan masyarakat Kabupaten Banyuwangi dan Pamekasan, ditangkap Tim Satgas Anti Mafia Tanah Polda Jatim

Informasinya, dua tersangka kasus di Banyuwangi, di antaranya, PDR (34) warga Sobo, Banyuwangi, dan P (54) warga Kabat, Banyuwangi

Kemudian tiga tersangka berlokasi di Desa Larangan, Tlanakan, Pamekasan, di antaranya tersangka B (57)  yang merupakan warga Penempaan, Pamekasan.

Kemudian, tersangka MS (53) dan S (51) yang sama-sama warga Tlanakan, Pamekasan.

Menurut Ketua Tim Satgas Anti Mafia Tanah, Brigjen Pol Arif Rachman, modus operandi dari kedua tersangka kasus di Banyuwangi, adalah, para tersangka memanipulasi berkas surat palsu untuk melakukan pemisahan sertifikat tanah di Kantor Pertanahan Banyuwangi

Yakni, para tersangka menggunakan surat kuasa palsu dengan melampirkan siteplan yang dibubuhi tanda tangan, stempel dan nomor registernya palsu, atau bukan dilansir dari Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU). 

Selain itu, ditemukan fakta, bahwa sosok nama yang digunakan oleh tersangka untuk mengurus permohonan pemisahan sertifikat tersebut, berinisial SU, yang telah meninggal dunia pada 30 September 2019.

Bahkan saat dikonfirmasi dalam proses penyelidikan kasus tersebut, sosok ahli waris SU berinisial AK mengaku tidak mengetahui permohonan pemisahan sertifikat tersebut. 

“Memang ahli waris, tidak mengetahui permohonan pemisahan tersebut. Nah, terjadi penyesatan di sini,” ujarnya di Ruang Rapat Utama Gedung Tri Brata Mapolda Jatim, Sabtu (16/3/2024). 

Baca juga: Nasib Pasutri Semarang Korban Mafia Tanah, Warung Penyetan Ditutup seusai Jadi Saksi: Tak Boleh Jual

Tak cukup di situ, lanjut Brigjen Pol Arif Rachman, kedua tersangka juga bersekongkol untuk melengkapi persyaratan permohonan pemisahan sertifikat dan juga ikut menunjukkan batas tanah yang dikavling kepada petugas BPN.

“Sehingga, terbit 29 surat hak milik (SHM) yang diduga palsu dan sudah dibuktikan oleh jaksa dan polisi lewat penyelidikan,” terangnya. 

Akibat perbuatan lancung kedua tersangka, pihak korban mengalami kerugian hingga kisaran Rp 17,7 miliar, dan luas tanah seluas 14.250 meter persegi. 

Kemudian, dari segi potensi kerugian negara yang seharusnya diperoleh dari Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan pajak penghasilan (PPH), pihak negara mengalami kerugian sekitar Rp 506 juta. 

Halaman selanjutnya

BERITATERKAIT

Ikuti kami di

 

​5 orang sindikat mafia tanah di Banyuwangi dan Pamekasan dibekuk Tim Satgas Anti Mafia Tanah Polda Jatim. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *