Pariwisata di Gili Rugi Besar Lantaran Krisis Air Bersih

​ ​

Mataram (NTBSatu) – Krisis air yang terjadi di Gili Trawangan dan Meno Kabupaten Lombok Utara membuat ratusan properti seperti resort, hotel, bungalow, dan penginapan lainnya terancam tutup.

Hal ini tentunya akan mengancam eksistensi dan kunjungan wisatawan. Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan amat menyayangkan kondisi ini terjadi berlarut-larut. Akibatnya, pariwisata di Gili terancam mandek.

“Air kan kebutuhan dasar manusia. Jangankan hotel – hotel, rumah tangga saja kalau tidak ada air pasti susah, ” ujar Lalu Kusnawan pada wartawan, di Mataram Selasa, 25 Juni 2024.

Imbas dari stok air bersih yang habis, sudah ada 6 properti di Gili Meno yang tutup dan 5 properti di Gili Trawangan memutuskan untuk tidak beroperasi sementara.

Kusnawan berujar, bila pengusaha tetap melakukan operasional justru akan mengurangi kualitas layanan kepada para konsumen dan mendapatkan rating yang buruk dari wisatawan.

Disamping itu, jika menggunakan air laut untuk membersihkan alat-alat memasak yang ada di restoran misalnya, tentu akan cepat rusak serta kerugian yang menanti menjadi lebih banyak.

“Kami terpaksa menolak banyak tamu. Bayangkan berapa kerugian yang dialami terlebih sekarang sedang High Season,” ungkapnya.

Kerugian Pariwisata Akibat Krisis Air

Dari segi penginapan saja, Kusnawan mengestimasi budget rata-rata 3,5 juta untuk setiap tamu yang menginap di hotel per harinya. Sementara, total kunjungan pada masa ramai seperti saat ini bisa tiap hari mencapai 2.500 wisatawan. Artinya, ada Rp8,75 miliar pundi-pundi rupiah yang menguap begitu saja jika permasalahan air bersih ini tidak segera terselesaikan.

“Itu baru dari satu lini saja. Belum potensi pemasukan yang lain seperti transportasi, tour guide, restoran, bar, diving dan masih banyak lagi,” imbuhnya.

Terakhir, pihaknya telah melakukan aksi hearing di Kantor DPRD Lombok Utara, untuk meminta kejelasan dan pertanggungjawaban dari pemerintah. Apabila belum menemui titik terang. Maka dengan terpaksa pihak hotel harus menolak tamu yang datang karena sudah tidak ada lagi stok air.

“Kami tidak punya pilihan lain. Kalau dari pemerintah tidak membantu menyelesaikan, 435 properti yang ada di Gili Trawangan memutuskan untuk tidak beroperasi,” tukasnya.

Sebelumnya, pemerintah berupaya menghadirkan PT TCN sebagai perusahaan penyedia air bersih di Gili Trawangan dan Meno saat ini. Namun masih ditolak oleh warga karena dugaan limbah berbahaya yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Kemudian asosiasi meminta pemerintah berkoordinasi dengan PDAM. Kusnawan menyebut PDAM sebagai mitra yang dapat membantu menyelesaikan sengkarut ini.

“Kita ini kan sedang tahap recovery pasca Covid 19. Mohon kerjasamanya. Intinya, harus ada disiapkan air bersih, selesai urusan,” pungkasnya. (STA)

Artikel Pariwisata di Gili Rugi Besar Lantaran Krisis Air Bersih pertama kali tampil pada NTBSatu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *